UEFA Batal Boikot Kompetisi FIFA Usai Kesepakatan Hak Komersial

Smallest Font
Largest Font

Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) bersiap secara resmi membatalkan ancaman boikot terhadap seluruh kompetisi di bawah naungan FIFA. Langkah ini diambil usai UEFA memperoleh jaminan bahwa rencana penjualan hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta tidak akan dilanjutkan, seperti dilansir dari Bola pada Rabu (26/8/2026).

Keputusan penting tersebut disepakati dalam pertemuan federasi anggota UEFA di Monako menjelang pengundian babak penyisihan grup Liga Champions. Pembatalan boikot ini memastikan enam tim nasional asal Eropa dapat terus bersiap mengikuti Piala Dunia Wanita U-20 FIFA di Polandia yang dijadwalkan mulai 5 September 2026.

Prancis dan Spanyol telah mempublikasikan daftar pemain mereka pekan lalu untuk turnamen yang diikuti 24 negara tersebut. Selain kedua negara itu, Inggris, Italia, Portugal, dan tuan rumah Polandia juga dipastikan tampil bertanding bersama tim dunia lainnya seperti Amerika Serikat, Brasil, serta Argentina.

Awal ketegangan dipicu oleh usulan Presiden FIFA Gianni Infantino untuk mendirikan anak perusahaan senilai 20 miliar dolar AS guna mengelola hak komersial FIFA. Rencana tersebut mencakup pengalihan 20 persen saham kepada konsorsium investor swasta pimpinan dana investasi asal New York milik Joshua Kushner.

Gelombang penolakan keras dari UEFA, yang didukung Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Concacaf, memaksa Infantino membatalkan proposal tersebut dalam waktu empat hari. UEFA lantas menuntut jaminan tertulis agar entitas komersial bernama FIFA Forward Enterprise itu tidak dihidupkan kembali.

Dampak perselisihan ini juga merembet pada peta politik jelang pemilihan presiden FIFA di Rabat, Maroko, pada Maret 2027. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan Federasi Sepak Bola Rumania (FRF) bahkan secara resmi telah mencabut dukungan mereka terhadap Infantino.

Presiden FIGC Giovanni Malago menyampaikan alasan di balik keputusan pihaknya untuk menolak rencana tersebut.

Italia memilih untuk berdiri sejajar bersama UEFA dan federasi Eropa lainnya demi mendorong visi sepak bola yang berbasis pada meritokrasi, keberlanjutan, serta keterlibatan fans, kata Giovanni Malago, Presiden FIGC.

Kritik senada juga diungkapkan oleh pihak pimpinan federasi Rumania terkait kebutuhan kepemimpinan di tubuh organisasi tertinggi sepak bola dunia tersebut.

FIFA saat ini membutuhkan sosok pemimpin baru yang mampu menciptakan konsensus, membangkitkan kepercayaan, serta menyatukan seluruh elemen sepak bola dunia, kata Răzvan Burleanu, Presiden FRF.

Meskipun Infantino semula diperkirakan memimpin tanpa perlawanan hingga 2031, krisis tata kelola akibat proposal investor swasta ini mengubah peta politik sepak bola global. Pembatalan boikot oleh UEFA kini menjadi titik krusial dalam menjaga stabilitas kompetisi internasional.

Follow bontangpost.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed