Bappenas dan Kemenpora Gelar Road to Talent Fest 2026
Kementerian PPN/Bappenas bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan forum Road to Talent Fest 2026 Bidang Olahraga di Ruang Rapat Kementerian PPN/Bappenas pada Kamis (13/8/2026). Dilansir dari Bola, acara ini digelar untuk mendiseminasikan arah kebijakan, memberikan ruang apresiasi, serta memperkuat kolaborasi antar-pemangku kepentingan demi mewujudkan olahragawan Indonesia yang berdaya saing global.
Forum tersebut dihadiri oleh pejabat lintas kementerian seperti Direktur Agama, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kementerian PPN/Bappenas Didik Darmanto, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Surono, serta Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali. Hadir pula sejumlah praktisi olahraga, termasuk Wasit Internasional Taekwondo Rahadewineta, pemegang rekor lari U-18 Anugrah Styawan Pujo, peraih medali perak Olimpiade 1988 Lilies Handayani, pemegang rekor lari SEA Games 2009 Suryo Agung Wibowo, serta CEO Mills Indonesia Tija Kong Hau.
Pembangunan dan pembinaan talenta nasional kini menjadi prioritas utama keempat dalam visi menuju Indonesia Emas 2045. Arah kebijakan ini menempatkan penguatan sumber daya manusia dan pemuda sebagai bagian dari program prioritas nasional.
"Memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), Sains dan Teknologi serta penguatan pemuda masuk ke dalam 8 Asta Cita sebagai 8 Prioritas Nasional," kata Bahjuri Ali, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas.
Pengembangan bakat olahraga di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan besar dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan. Kualitas tata kelola dan dukungan fasilitas bagi para atlet menjadi poin krusial yang memerlukan perhatian bersama.
"Bakat saja tidak cukup, tantangan besar kita adalah bagaimana pengembangannya,talenta menjadi bakat, bakalt menjadi ekosistem dan berakhir menjadi hasil yang memengaruhi sistem," kata Lindsey Afsari Putri, Tenaga Ahli Utama Deputi III Kepala Staf Kepresidenan.
Keberhasilan seorang atlet meraih prestasi internasional disebut tidak lepas dari kontribusi sinergis berbagai pihak. Kolaborasi dari hulu ke hilir sangat menentukan hasil akhir di podium juara.
"Satu medali hasil kerja kolektif kita semua yang ada di sini, atletnya, pelatih, manajemen klub, keluarga dan pemerintah. Lalu bagaimana tata kelola dan pendidikan hingga jaminan kesehatan yang baik untuk para atlet." ucap Lindsey.
Meski memiliki potensi besar, proses pengembangan atlet di dalam negeri saat ini masih terhambat oleh sejumlah kendala teknis dan struktural. Masalah data dan keterbatasan akses kompetisi menjadi catatan yang harus dibenahi.
"Data yang kurang terpantau, pembinaan terfragmentasi, akses kompetisi tidak merata, sport science belum optimal, pendidikan dan karir atlet, transisi antar tahap belum lulus" ungkap Lindsey.
Di sisi lain, Kemenpora menegaskan bahwa cetak biru olahraga nasional, khususnya sepak bola, memiliki target jangka panjang yang tinggi. Salah satu fokus utama pemerintah adalah membawa tim nasional bersaing di panggung dunia.
"Salah satu cita-cita utama kita mengantarkan Indonesia lolos ke Piala Dunia," kata Surono, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Pemerintah juga berencana menerapkan metode mencontoh pola pembinaan atlet berprestasi yang sudah terbukti sukses. Pola pembinaan jangka panjang yang terstruktur akan dijadikan acuan baku untuk melahirkan generasi baru.
"Cangkokannya sudah ada, kita tinggal mengikuti apa yang telah dibangun oleh Rizki Juniansyah yang telah dipantau sejak kelas 1 SMP. Usain Bolt adalah contoh pelari tercepat dunia, di Indonesia kita punya Suryo Agung. Kita tinggal ikuti contoh yang sudah ada. Kita sudah punya cangkokannya" tambah Surono.
Bagi cabang olahraga yang belum memiliki role model domestik, pemerintah akan mendorong para atlet untuk menimba ilmu di luar negeri. Namun, tantangan nyata di lapangan saat ini adalah masih minimnya kuantitas hasil seleksi atlet berbakat dari ribuan peserta yang menyisakan kualitas di bawah standar nasional.
"Kita kesulitan mencari pemain berbakat, seleksi untuk masuk ke pemusatan di Cibubur dari 2.500 peserta seleksi, hanya menyisakan 50 peserta berbakat dan itupun di bawah standar," tambahnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow