Asal Usul Samsung Galaxy Ternyata Bukan Sekadar Cerita Ponsel Pintar Biasa

Smallest Font
Largest Font

Banyak dari kita menggenggam perangkat ini setiap hari, tetapi jarang ada yang benar-benar tahu mengenai benang merah sejarah dari pertanyaan besar tentang who made samsung galaxy. Sebagai seorang reviewer senior yang telah bertahun-tahun menguliti dinamika teknologi seluler, saya melihat ada sebuah narasi keliru yang sering beredar di masyarakat luas. Sebagian orang mengira lini gawai tangguh ini lahir begitu saja dari sebuah laboratorium modern yang instan di era milenial.

Faktanya, akar dari raksasa teknologi ini bermula dari tempat yang sangat jauh dari kesan digital dan semikonduktor canggih. Mari kita bedah secara mendalam dan kritis mengenai siapa di balik layar, di mana ekosistem ini dirakit, serta apa saja borok yang kerap disembunyikan dari balik gemerlapnya nama besar Galaxy.

Pondasi utama dari merek yang kita kenal sekarang diletakkan oleh seorang pria bernama Byung-Chull Lee (Lee Byung-chul). Beliau mendirikan Samsung pada tahun 1938 di wilayah Taegu, Korea.

Menariknya, bisnis awal mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan chip komputer atau layar AMOLED. Berdasarkan catatan sejarah resmi, perusahaan ini awalnya beroperasi sebagai perusahaan perdagangan yang mengekspor ikan kering, bahan makanan lokal, dan mi. Saya menilai transformasi ini sebagai salah satu evolusi bisnis paling radikal dalam sejarah modern. Dari sekadar menjual mi dan komoditas pangan lokal, mereka berhasil melompat ke industri elektronik berat melalui anak usahanya, Samsung Electronics.

Lompatan besar dari bisnis ikan kering dan mi menuju manufaktur teknologi tinggi membuktikan bahwa adaptasi adalah kunci utama bertahannya sebuah entitas bisnis di pasar global.

Langkah berani tersebut terbukti membuahkan hasil yang sangat masif di era modern. Nilai merek Samsung berhasil menempati peringkat kelima tertinggi di dunia pada tahun 2024. Keberhasilan finansial mereka juga tercermin secara nyata dalam laporan terbarunya. Pendapatan konsolidasi Samsung Electronics pada tahun fiskal 2025 tercatat mencapai angka fantastis sebesar ₩333,6 triliun dengan perolehan laba operasi sebesar ₩43,6 triliun.

Performa keuangan yang kokoh ini menjadi bahan bakar utama bagi divisi seluler mereka untuk terus mengembangkan ekosistem Galaxy. Tidak heran jika saat ini mereka mampu memproduksi dan menjual sekitar 230 juta ponsel per tahun. Angka distribusi yang luar biasa masif tersebut secara otomatis menobatkan mereka sebagai merek ponsel cerdas Android terbesar di dunia saat ini. Namun, jutaan perangkat yang beredar di pasar global tersebut tidak datang dari satu tempat saja.

Bagaimana Samsung memproduksi jutaan smartphone mahal di pabrik besar | Business Stories

Peta Global Perakitan dan Rahasia Dapur Komponen

Meskipun Samsung merupakan perusahaan asli Korea Selatan, proses perakitan fisik lini Galaxy tersebar di berbagai belahan dunia guna menekan biaya logistik dan operasional. Berdasarkan estimasi pembagian wilayah kerja pabrik seluler mereka, kontribusi terbesar justru tidak berada di negara asalnya.

Daftar Sebaran Lokasi Perakitan Ponsel

  • Vietnam: Memegang porsi terbesar dengan estimasi mencapai 48%.
  • India: Berada di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 18%.
  • Korea Selatan: Negara asal ini menyumbang sekitar 14% dari total produksi.
  • Tiongkok: Mengambil porsi perakitan sebesar 7%.
  • Indonesia: Berkontribusi aktif sebesar 6% untuk pasar domestik dan sekitarnya.
  • Wilayah Lain / Tidak Diketahui: Menyumbang sisa 7% dari total rantai pasok.

Dari data sebaran tersebut, Vietnam jelas menjadi tulang punggung utama dari lini Galaxy yang Anda gunakan saat ini. Dilansir dari SamMobile, pabrik Samsung di Bac Ninh dan Thai Nguyen, Vietnam, telah memproduksi lebih dari 2 miliar unit ponsel Galaxy sejak pertama kali beroperasi pada April 2009.

Basis manufaktur di Vietnam ini memiliki skala ekonomi yang sangat masif bagi internal perusahaan. Tercatat, Samsung Vietnam mencetak pendapatan sebesar USD 31,6 miliar pada enam bulan pertama tahun berjalan, dengan USD 28 miliar di antaranya disumbangkan langsung dari sektor ekspor.

Kemandirian Komponen Komparasi Internal vs Eksternal

Satu hal yang menurut saya patut diacungi jempol dari strategi manufaktur mereka adalah tingkat kemandirian komponen yang sangat tinggi. Samsung memproduksi banyak perangkat keras secara mandiri (in-house) untuk lini Galaxy mereka.

Komponen sensitif seperti panel layar, cip memori (DRAM dan NAND), sensor kamera, hingga baterai dibuat langsung oleh divisi komponen mereka. Bahkan, kedigdayaan teknologi layar mereka diakui oleh para kompetitor beratnya. Layar buatan pabrikan Korea ini juga digunakan secara reguler oleh pesaing utamanya seperti Apple untuk perangkat iPhone dan Google untuk lini Pixel.

Namun, mereka tidak sepenuhnya menutup diri dari ekosistem luar. Untuk beberapa model tertentu, mereka masih mengandalkan pasokan dari pihak ketiga. Sebut saja penggunaan prosesor Snapdragon dari Qualcomm untuk dapur pacu utama serta lapisan kaca pelindung Gorilla Glass dari Corning demi menjaga ketahanan layar.

Spesifikasi Komponen Utama Perangkat Seluler Samsung
Jenis KomponenAsal PabrikanStatus Integrasi
Panel LayarIn-House (Samsung)Mandiri
Cip Memori DRAM/NANDIn-House (Samsung)Mandiri
Sensor KameraIn-House (Samsung)Mandiri
Prosesor ExynosIn-House (Samsung)Mandiri
Prosesor SnapdragonQualcommEksternal
Kaca Gorilla GlassCorningEksternal

Sebagai contoh nyata integrasi komponen ini, mari kita lihat lini komersial terbarunya. Perangkat Samsung Galaxy M47 secara resmi hadir dengan mengandalkan chipset Qualcomm Snapdragon 6 Gen 3 yang dipadukan dengan kapasitas baterai monster sebesar 6.000 mAh.

Sisi Kelam One UI, Masalah Bloatware, dan Kunci Sistem yang Kaku

Sebagai reviewer yang kritis, saya tidak boleh hanya memberikan pujian pada angka-angka penjualan yang besar. Kita harus melihat bagaimana evolusi perangkat lunak mereka yang kini justru mulai terasa membatasi kebebasan para penggunanya.

Antarmuka pengguna (UI) perangkat seluler Samsung sejatinya telah mengalami evolusi panjang. Mulai dari TouchWiz yang legendaris namun berat (digunakan hingga 2017), berubah menjadi Samsung Experience, dan akhirnya digantikan oleh One UI sejak tahun 2019. Meskipun One UI dipuji karena kemudahan navigasi satu tangannya, strategi kemitraan perangkat lunak mereka belakangan ini mulai mengorbankan kenyamanan ruang penyimpanan konsumen. Sejak akhir 2019, aplikasi pihak ketiga dari Microsoft seperti Outlook telah hadir secara prainstal di perangkat Galaxy.

Masalah penumpukan aplikasi tidak berguna atau bloatware ini semakin diperparah oleh kebijakan regional yang sangat merugikan konsumen di wilayah tertentu. Di wilayah Asia Barat dan Afrika Utara, mereka dilaporkan menginstal aplikasi bernama AppCloud secara paksa. Aplikasi asal Israel ini diketahui mengumpulkan data pribadi pengguna secara agresif. Parahnya lagi, sistem tidak menyediakan opsi opt-out (menolak) ataupun opsi uninstall (penghapusan) bagi para pengguna standar.

Bagi pengguna mahir yang berniat membersihkan gawai mereka secara mandiri, jalur tersebut kini telah ditutup rapat secara sepihak. Jika Anda nekat melakukan akses root untuk menghapus bloatware sistem, tindakan tersebut akan memicu sakelar fisik Samsung Knox E-fuse yang seketika membatalkan garansi perangkat secara permanen. Langkah restriksi ini semakin diperketat secara ekstrem pada sistem operasi terbaru.

Pada perangkat yang menjalankan OneUI 8 atau versi yang lebih baru, aktivitas membuka kunci bootloader kini menjadi mustahil untuk dilakukan. Pihak pabrikan telah menghapus kode verifikasi tersebut sepenuhnya dari menu aplikasi pengaturan serta dari dalam sistem bootloader itu sendiri. Menurut saya, kebijakan ini adalah langkah mundur yang merampas hak penuh konsumen atas perangkat keras yang telah mereka beli secara sah menggunakan uang mereka sendiri.

Ponsel Galaxy tidak lagi sepenuhnya menjadi milik pembeli setelah transaksi selesai. Kebijakan proteksi Knox yang kaku dan penyusupan aplikasi pelacak data yang tidak bisa dihapus pada OneUI 8 menjadi bukti bahwa kendali utama perangkat tetap berada di tangan raksasa Korea Selatan ini, terlepas dari fakta bahwa komponen fisiknya mungkin saja dirakit oleh buruh di Vietnam atau Indonesia.

Follow bontangpost.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed