Mimpi Dua Srikandi Muda Menembus Panggung Sepak Bola Dunia

Smallest Font
Largest Font

Di bawah terik matahari yang menyinari Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, ratusan pesepak bola putri muda beraksi dengan penuh semangat. Ajang HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026 yang berlangsung pada 5-12 Juli 2026 menjadi panggung bagi mereka untuk memamerkan bakat terbaik di lapangan hijau.

Dari ratusan wajah belia yang hadir di Kudus, ada dua nama yang mencuri perhatian penonton dan pencari bakat: Albianca Raula dan Auliah Arifah. Keduanya tengah meniti jalan panjang menuju panggung sepak bola nasional, membawa harapan besar bagi masa depan olahraga ini.

Kedua pemain belia ini datang dari regional yang berbeda dalam kompetisi yang diinisiasi oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation. Albianca Raula berasal dari HYDROPLUS Soccer League 2025/2026 Jabodetabek bersama Cipta Cendikia FA asal Bogor, sedangkan Auliah Arifah memperkuat Akademi Persib Bandung di HYDROPLUS Soccer League 2025/2026 Jawa Barat.

Meski tumbuh dari daerah dan latar belakang yang bertolak belakang, keduanya dipersatukan oleh satu ambisi yang menyala-nyala. Mereka ingin menjadi pesepak bola profesional dan mengenakan seragam kebanggaan Garuda di dada. Sembari mengikuti kompetisi, Albianca dan Auliah sempat berbagi cerita mengenai pengalaman mereka mengikuti seleksi Timnas Indonesia Putri untuk level kelompok umur.

Bagi Albianca Raula, atau yang akrab disapa Bianca, ajang di Kudus ini bukan sekadar turnamen biasa. Ini merupakan babak terbaru dari perjalanan panjang yang sudah ia rintis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Memiliki posisi asli sebagai gelandang, Bianca justru ditempatkan sebagai pemain sayap selama turnamen, membuktikan fleksibilitas dan kematangan taktiknya di usia yang masih sangat muda.

Jejak Bianca di lapangan hijau bermula dari MilkLife Soccer Challenge 2024 Series 2 Jakarta, yang kemudian membawanya ke MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2025 hingga terpilih mewakili Indonesia di Junior Soccer School and League (JSSL) Singapore 7’s 2025. Langkahnya kian mantap saat menjuarai HYDROPLUS Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 Regional Jakarta bersama Cipta Cendikia FA, momen emas yang berbuah beasiswa akademi serta panggilan seleksi tim nasional junior di bawah asuhan Timo Scheunemann.

Pemain kelahiran 2013 yang baru saja lulus dari SDN Kebagusan 03 Jakarta Selatan ini berhasil lolos seleksi nasional. Namun, ia sangat sadar bahwa persaingan di level tertinggi menuntut ketangguhan mental yang luar biasa.

“Kalau sudah di timnas itu enggak segampang yang kamu bayangkan,” ujar Bianca, Gelandang Cipta Cendikia FA.

Pengalaman berharga tersebut dijadikannya sebagai cambuk untuk terus memperbaiki diri di tengah kritik dan tantangan fisik yang berat.

“Itu semua bagian dari perjuangan Bianca,” ujar Bianca, Gelandang Cipta Cendikia FA.

Kini, target jangka panjang telah dipancangkan erat-erat oleh Bianca setelah mencicipi atmosfer kompetisi internasional hingga ke Supersoccer Arena. Targetnya adalah menembus skuad utama Timnas Indonesia Putri dan membawa negara bersaing di pentas Piala Dunia Wanita.

“Dengan bersabar tetapi tetap berlatih hingga saat itu tiba, saya sudah tahu apa yang bisa saya lakukan nanti,” ujar Bianca, Gelandang Cipta Cendikia FA.

Transisi Mulus Auliah dari Lapangan Futsal

Jika Bianca meniti karier sejak awal di lapangan besar, perjalanan Auliah Arifah justru bermula dari lantai lapangan futsal. Menekuni futsal sejak kelas 6 SD, Auliah baru memutuskan berpindah haluan ke sepak bola konvensional pada tahun 2024.

Transisi tersebut rupanya membawa berkah yang tidak disangka-sangka. Pada percobaan pertamanya mengikuti seleksi tim nasional kategori usia, Auliah langsung dinyatakan lolos dan berhasil mempertahankan posisinya hingga sekarang, sebuah pencapaian langka yang membuktikan bakat alamiahnya di atas rumput hijau.

“Ketika sudah di timnas, semua pemain bagus,” ujar Auliah, Pemain Akademi Persib Bandung.

Latar belakang sebagai pemain futsal memberi Auliah fondasi yang unik berupa kelincahan dan kontrol bola di ruang sempit. Selama menjalani pemusatan latihan, ia harus belajar cepat memahami perbedaan taktik, teknik dasar, serta visi bermain sepak bola yang jauh lebih luas dibandingkan futsal.

Langkah berani Auliah untuk serius berkarier sebagai atlet profesional didukung penuh oleh kedua orang tuanya yang memberikan kebebasan memilih jalur hidup. Di lapangan, inspirasi terbesarnya datang dari sosok senior sepak bola putri Indonesia, Maulina Novryliani.

“Saya pernah satu tim dengannya dan saya belajar kalau main sepak bola seperti ini, sementara main futsal seperti ini. Dia menginspirasi saya banget dan keren banget menurut saya,” ujar Auliah, Pemain Akademi Persib Bandung.

Konsistensi Menuju Panggung Dunia

Perbedaan titik awal tidak menghalangi Albianca Raula dan Auliah Arifah untuk membuktikan bahwa jalan menuju karier profesional terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki ketekunan dan kerja keras. Wadah kompetisi usia muda menjadi jembatan krusial yang mempertemukan talenta terbaik dari berbagai pelosok daerah.

Mimpi besar untuk membela Timnas Indonesia Putri di panggung dunia memang masih membutuhkan waktu dan keringat yang tidak sedikit. Namun, determinasi yang diperlihatkan oleh Bianca dan Auliah di Kudus menjadi sinyal positif bahwa pembinaan sepak bola putri nasional tengah berjalan di jalur yang tepat.

Follow bontangpost.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed