Jurgen Klopp Resmi Tukangi Timnas Jerman dengan Gaji Lebih Rendah

Smallest Font
Largest Font

Jurgen Klopp secara resmi diumumkan sebagai pelatih baru Timnas Jerman. Langkah ini mengakhiri spekulasi publik setelah Julian Nagelsmann purna tugas pasca-kegagalan di babak 32 besar Piala Dunia 2026 akibat kekalahan adu penalti dari Paraguay. Penunjukan ini menjadi pengalaman perdana bagi Klopp dalam menangani tim nasional.

Juru taktik berumur 59 tahun tersebut sebelumnya memutuskan hengkang dari Liverpool pada 2024 seusai mengabdi selama sembilan tahun di Anfield. Selama memimpin klub Premier League tersebut, ia sukses mempersembahkan gelar Juara Liga Inggris pada 2020 serta trofi Liga Champions semusim sebelumnya. Usai rehat dari dunia kepelatihan, Klopp sempat menjabat sebagai Head of Global Soccer Red Bull pada awal 2025.

Kini pelatih ternama tersebut resmi kembali ke pinggir lapangan dengan memimpin skuad negara kelahirannya. Dilansir dari Bola, Klopp menyepakati kontrak berdurasi empat tahun yang berlaku hingga putaran Piala Dunia 2030.

Laporan Give Me Sport menyebutkan bahwa Klopp mengantongi besaran gaji sekitar 7 juta euro atau setara Rp142,7 miliar per tahun. Nominal tersebut tetap menempatkannya dalam jajaran pelatih tim nasional bertarif tertinggi di dunia. Meski begitu, angka ini tercatat jauh meluncur turun dibandingkan pendapatannya pada musim terakhir di Liverpool. Kala mengasuh The Reds, ia menerima upah senilai 15 juta paun atau sekitar Rp305,8 miliar per tahun, nominal yang 50 persen lebih tinggi dari kontraknya bersama DFB.

Bahkan, pendapatan tahunan Klopp saat menduduki posisi Head of Global Soccer Red Bull berada di kisaran 10 juta hingga 12 juta euro (Rp203,8–Rp244,6 miliar). Angka tersebut didapatkan meski dirinya tidak terlibat langsung dalam instruksi taktis harian di lapangan.

Perbedaan Struktur Ekonomi Klub dan Federasi

Penyesuaian nilai gaji ini tidak berkaitan dengan penurunan reputasi taktis Klopp. Kondisi ini dipengaruhi oleh perbedaan mendasar pada struktur ekonomi antara klub sepak bola dan federasi nasional.

Pelatih yang sudah mengumpulkan 13 trofi utama tersebut tetap menghadapi pemotongan gaji saat beralih ke sepak bola internasional. Klub seperti Liverpool mengantongi pendapatan masif dari tiket pertandingan, hak siar, hingga sektor komersial yang jauh melampaui kemampuan finansial federasi.

Faktor beban kerja turut menjadi alasan penyesuaian nilai kontrak tersebut. Pelatih klub mendampingi tim secara intensif sepanjang musim di berbagai ajang domestik dan Eropa, sedangkan juru taktik tim nasional hanya berkumpul dengan pemain beberapa kali dalam setahun saat jeda internasional.

Follow bontangpost.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed